Rabu, 23 November 2016

SoloPos 16 Oktober 2013 halaman 4 Rubrik Gagasan

GAGASAN
REFLEKSI HARI PANGAN SEDUNIA, 

Petani & Stagnasi Produksi Pangan

 H.M. Sholeh

msholeh10@yahoo.com

Dewan Pembina Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Tengah
 

Setiap tahun, Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati pada 16 Oktober. Tahun ini merupakan HPS ke-33. Tema internasional yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) adalah Sustainable Food Systems for Food Security and Nutrition yang artinya Sistem Pangan Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan dan Gizi.
 
Tema tersebut diterjemahkan menjadi tema nasional Optimalisasi Sumber Daya Lokal Menuju Kemandirian Pangan. Tema tersebut dipilih dengan pertimbangan Indonesia kaya berbagai sumber daya alam sebagai sumber pangan lokal yang bernilai gizi tinggi.

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan senantiasa harus dipenuhi. Ketersediaan pangan suatu bangsa merupakan suatu keharusan agar bangsa tersebut mandiri. Fluktuasi harga pangan dunia akibat perubahan iklim dan berbagai tantangan produksi pangan dunia perlu disikapi dengan mengoptimalkan sumber daya pangan lokal untuk kemandirian pangan.

Entah istilah apalagi yang dipakai pemerintah untuk mengusung pangan sebagai kebutuhan manusia yang paling hakiki ini. Ada istilah ketahanan pangan, kemandirian pangan, sampai kedaulatan pangan. Tapi, muaranya adalah kecukupan pangan baik kualitas, kuantitas, kontinuitas, maupun keterjangkauannya (K4).
Apa pun programnya yang penting tindakan nyata di akar rumput, yaitu di kalangan petani dan masyarakat umum. Tak perlu tema muluk-muluk. Menurut saya, yang lebih lebih tepat adalah “aksi program” secara nyata daripada kebanyakan program tapi tak kelihatan nyata hasilnya. Mengapa pertanian penting?
Berdasarkan data nasional, total angkatan kerja sekitar 110 juta jiwa, dan sekitar 40 juta jiwa atau 37% di antara mereka masih bergantung pada sektor pertanian. Sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan reorientasi paradigma dan strategi pembangunan yang dapat mendukung penguatan sektor pertanian. Sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat.

Sementara itu, sektor yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dari sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap produk demostik bruto atau PDB (sektor industri dengan share terhadap PDB hampir 30%) ternyata hanya mampu menyerap 12,5% angkatan kerja yang ada.

Tahun-tahun mendatang merupakan momentum yang sangat penting dalam menentukan perjalanan bangsa. Strategi pembangunan yang berbasis pada sumber daya alam terbarukan, di mana pertanian menjadi pilar pokoknya, masih sangat diharapkan peran signifikannya. Lalu kenapa pertanian di Indonesia tidak maju-maju?

Kurang Perhatian
Meskipun pertanian penting tetapi tidak mendapatkan cukup tempat dalam pembangunan nasional. Berdasarkan analisis data produktivitas selama dua dasa warsa, ternyata produktivitas tanaman pangan mengalami pelandaian bahkan stagnan, khususnya untuk komoditas padi sawah (lihat grafik 1).



 
Sumber : www.bps.go.id 2013 (diolah)


Dari grafik 1 tersebut produktivitas nasional tanaman pangan di Indonesia tidak ada kenaikan yang signifikan kecuali jagung. Produktivitas jagung cukup meningkat mengingat ada program hibridisasi benih untuk menunjang produksi jagung nasional.

Produktivitas komoditas padi dari tahun 1993-2013 hanya meningkat 4.38 ton/hektare menjadi 5.15 ton/hektare atau hanya meningkat 1.7% per tahun.  Hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat lahan pertanian sawah produktif semakin berkurang akibat desakan industri dan pemukiman.
Sementara pertambahan penduduk dalam dua dasawarsa tersebut meningkat dari 185 juta  pada t1993 menjadi 242 juta pada 2013 atau meningkat 3,1% persen. Ini  merupakan tanda bahaya bagi kecukupan pangan di masa mendatang.

Bahkan, pada kasus komoditas kedelai, selain produktivitas yang tidak ada peningkatan selama dua dasawarsa juga menurunnya luas lahan pertanaman kedelai. Ini adalah komoditas yang berkaitan dengan ekonomi rakyat. Harus segera ada kebijakan yang berpihak kepada petani.

Produktivitas tanaman pangan memang sangat dipengaruhi faktor benih, tanah, irigasi, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen dan pascapanen. Selain itu faktor alam, kondisi geografis, dan agroklimat juga sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah menjalankan kebijakan untuk menunjang peningkatan produktivitas pangan di Indonesia baik benih, pupuk, infrastruktur, termasuk irigasi, hingga permodalan dan jaminan pasar bagi produk pangan.

Tidak adanya peningkatan produktivitas padi yang signifikan selama 20 tahun terakhir menunjukkan kurangnya keberpihakan kebijakan pemerintah kepada sektor pertanian.  Subsidi benih sering telat, peredaran pupuk tidak lancer, dan kerusakan sistem dan saluran irigasi di mana-mana.
Padahal berdasarkan kajian teknologi dari ratusan fakultas pertanian perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) di Indonesia menunjukkan produktivitas padi sawah di Indonesia masih bisa mencapai 8-10 ton/hektare. Di sinilah tantangan bagi pemerintah!

Anehnya para petani kita tetap saja menanam meskipun belum tentu untung atau bahkan balik modal dari komoditas tanaman pangan di Indonesia ini.  Inilah hebatnya petani kita: tidak menghitung untung atau rugi.
Pertanian dijalankan secara turun-temurun, bahkan di tengah tidak menariknya sektor pertanian yang mulai banyak ditinggalkan oleh para pemuda yang lebih senang menjadi buruh pabrik, karyawan, atau pekerjaan lainnya.

Unggulan 
Menurut hemat saya kunci pokok ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan adalah fokus pada unggulan. Indonesia dengan wilayah yang sangat luas memiliki potensi unggulan masing-masing.
Ada potensi unggulan padi, jagung, kedelai, hortikultura, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan lain-lain. Jadi tidak zamannya lagi memaksakan introduksi produk yang tidak merupakan unggulan atau potensinya rendah.

Keberhasilan Gorontalo menjadi daerah jagung merupakan contoh fokus unggulan. Dengan kesungguhan dan dukungan penuh pemerintah daerah, Gorontalo menjelma menjadi sentra jagung nasional. Yang jelas, dukungan segala sektor juga harus diperhatikan seperti irigasi, jalan, pelabuhan, pasar, permodalan, penyuluhan, dan yang penting pembinaan manajemen.

Demikian juga fasilitas pemasaran lokal, regional, nasional, hingga internasional. Pendek kata semua unit kerja pemerintahan dikerahkan terfokus, meskipun tanpa mengabaikan pelayanan publik lainnya. Bahkan sektor lain di Gorontalo ikut terangkat sukses sebagai imbas fokus jagung tersebut.
Demikian juga berkah kegagalan program lahan sawah sejuta hektare di Kalimantan Tengah sekarang memunculkan kebijakan fokus unggulan pada Aloe vera atau lidah buaya. Ternyata program tersebut sukses dengan fokus penghasil lidah buaya terbesar dengan kualitas tinggi meskipun di lahan gambut.
Kiranya sudah saatnya ada daerah fokus unggulan kedelai, misalnya di wilayah tapal kuda Jawa Timur: Jember, Pasuruan, atau Banyuwangi dan sekitarnya. Kelangkaan produk kedelai diduga akibat tidak adanya petani kedelai.

Pertanian kedelai hanyalah tanaman tumpang gilir setelah padi-kedelai-padi, atau padi-jagung-padi. Sudah saatnya pemerintah mengkoordinasi fokus unggulan sebagai aksi program, bukan sekadar program aksi. Kesuksesan Fadel Muhammad membangun Gorontalo dengan fokus jagung patut diapresiasi.
Kesuksesan itu mengantarkannya menjadi menteri, terlepas “dosa politik” apa pun yang menyebabkan dia diganti. Akhirnya untuk apresiasi kepada petani sepatutnya kita memberikan gelar Pahlawan Pangan Tanpa Tanda Jasa kepada petani.

Saat ini petani tetap saja menanam padi/pangan tanpa pernah berhitung apakah untung atau rugi, bahkan jerih payah tenaga mereka pun tak dihitung.  Coba hitung dengan 12 juta hektare lahan sawah dengan rata-rata kepemilikan hanya 0,3 hektare/petani dan biaya  Rp3 juta-Rp4 juta/hektare saja maka petani telah menginvestasikan lebih dari Rp36 triliun per musim.
Petani adalah mega investor. Mudah-mudahan dengan refleksi Hari Pangan Sedunia ke-33 ini mampu menggugah semangat untuk meningkatkan harkat dan kesejahteraan petani dalam arti yang sebenarnya. Semoga!


Kliping/Scan aslinya

Senin, 09 September 2013

Artikel Solo Pos Sabtu, 7 September 2013 rubrik GAGASAN halaman 4

SOLOPOS.COM > Kolom > GAGASAN : Menuju Tempe Kedelai Dhewe

GAGASAN
Menuju Tempe Kedelai Dhewe

M. Sholeh msholeh10@yahoo.com Pengamat masalah pertanian Dewan Pembina Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Tengah 
M. Sholeh 
 msholeh10@yahoo.com 
Pengamat masalah pertanian 
Dewan Pembina Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Tengah 


Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat bawah tiba-tiba menggegerkan kancah komoditas pertanian nasional. Penyebabnya tak lain adalah kelangkaan kedelai sebagai bahan baku tempe. Ribuan pengrajin tahu-tempe terancam gulung tikar, dan mengancam akan mogok berproduksi serta berunjuk rasa di mana-mana. Itulah pelajaran yang perlu dipetik para pengambil kebijakan bahwa barang yang dianggap sepele seperti tempe bila tak ditunjang kebijakan yang kece dapat menyebabkan ekonomi rakyat memble. Adalah hal yang sungguh ironis di negeri yang mengaku asal tempe tetapi bahan bakunya adalah kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat. Ada apa dengan tempe? Mengapa suplai kedelai memble? Itulah topik pekan ini yang menjadi sorotan pedagang tahu-tempe hingga pejabat perlente.

Sesungguhnya saya sudah mengamati  sejak 2005 bahwa suatu saat akan terjadi masalah dengan kedelai jika tidak ada perhatian serius terhadap penanaman komoditas kedelai tersebut (lihat gambar 1).
 
Gambar 1. Estimasi Kebutuhan, Impor dan Luasan Produksi Kedele Indonesia (Diolah dari data BPS)


Ternyata di awal 2008 lalu terbukti masalah kedelai harus dibahas DPR dan pemerintah demi menyelamatkan ekonomi rakyat. Para pengusaha tahu-tempe yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja di level bawah ternyata harus menganggur karena kelangkaan kedelai. Dari grafik tersebut terlihat kecenderungan impor dan produksi kedelai nasional seharusnya diwaspadai sejak 2005. Apalagi, walaupun luas lahan meningkat tetapi peningkatannya tidak seberapa, sementara kebutuhan semakin meningkat dan impor meningkat tajam mulai 2005.  Dan lebih parahnya lagi kejadian serupa terjadi lagi pada 2013 ini.  Bagaimana kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan)—lebih tepatnya Menteri Pertanian–selaku pemangku kebijakan pertanian?

Jika ditilik dari kebutuhan kedelai nasional per tahun yang mencapai 2.2 juta ton, 1.8 juta ton di antaranya tersedot untuk pembuatan tahu-tempe dan sejenisnya, dan anehnya 72% di antaranya atau hampir 1.58 juta ton masih tergantung dari impor. Itu terjadi karena kebijakan perdagangan yang memungkinkan masuknya kedelai impor bersubsidi dari luar negeri dengan harga murah dan dengan pembayaran ringan yang berakibat melemahkan potensi produksi dalam negeri dari waktu ke waktu.  Sementara itu, dengan perubahan pola penggunaan kedelai global dari konsumsi pangan yang mulai didiversifikasi menjadi bahan bakar nabati, meningkatlah permintaan kedelai dunia. Akibatnya seperti dirasakan di Indonesia.  Dalam waktu hanya tiga bulan terakhir terjadi peningkatan harga kedelai lebih dari 100 persen. Ini suatu lonjakan harga yang mencapai rekor tertinggi sepanjang 34 tahun terakhir.  Bahkan harga kedelai lokal sudah mencapai Rp7.000-Rp10.000 per kilogram.

Produksi kedelai dalam negeri tak mampu lagi memenuhi kebutuhan nasional, apalagi mewujudkan swasembada. Mengapa petani enggan menanam kedelai? Seharusnya dengan fenomena meningkatnya harga-biji-bijian di pasar dunia, hal itu meningkatkan rangsangan bagi petani untuk menanam kedelai secara besar-besaran. Bagaimana kiat untuk menggairahkan petani menanam kedelai secara massal untuk mencukupi kebutuhan nasional ?

Kunci di Penanaman

Asumsi bahwa tanaman kedelai itu tanaman asli daerah subtropis  dan kurang baik dibudidayakan di daerah tropis terpatahkan dengan berbagai penemuan varietas unggul kedelai nasional seperti varietas lokon, wilis, baluran, marubateri, dan lain-lainnya.  Bahkan edamame (kedelai sayur) pun sudah tumbuh baik di Jember, Jawa Timur.

Menurut saya yang berlatar belakang petani, kunci utama adalah di budi daya kedelai. Kuncinya adalah bagaimana budi daya kedelai bisa menghasilkan panen yang banyak dan berkualitas baik. Selama ini petani enggan menanam kedelai karena produktivitasnya yang rendah dan harganya yang tidak cukup baik bagi petani.  Produktivitas nasional hanya berkisar 1 ton–1,2 ton per hektare dengan harga hanya Rp3.000-Rp3.500 per kilogram saat itu. Jika biaya budi daya per hektare (sarana produksi pertanian atau saprotan dan tenaga kerja dihitung) sekitar Rp3 juta–Rp3.5 juta per hektare, pendapatan petani dengan produktivitas satu ton/hektare hanya Rp3 juta–Rp3.5 juta per hektare. Artinya tak ada keuntungan bagi petani.

Dengan program kemitraan dengan berbagai pihak, beberapa petani maupun profesional di bidang pertanian telah mengkaji bahwa dengan teknik budi daya yang baik dan intensif dan dukungan teknologi (benih unggul, pemupukan berimbang, dan cara budi daya) yang baik maka produktivitas tanaman kedelai dapat ditingkatkan menjadi 1,8 ton per hektare bahkan pernah mencapai tiga ton per hektare untuk varietas unggul nasional baluran.  Dengan pencapaian rata-rata dua ton per hektare saja dapat dipastikan petani akan bergairah kembali untuk menanam kedelai. Jika harga kedelai nasional bertahan pada titik keseimbangan Rp6.000 per kilogram, dengan produktivitas dua ton per hektare dan biaya yang meningkat hingga Rp4 juta per hektare pun petani masih akan untung hingga Rp6 juta per musim atau hampir Rp2 juta per bulan.
 
Tanaman kedelai hanya membutuhkan waktu 80 hari-90 hari dari penanaman hingga panen. Banyak petani menggunakan pola tanam sela atau tanaman jeda di antara dua penanaman padi di sawah. Kurang tepatnya kebijakan pemerintah saat ini adalah ada rangsangan agar petani hanya menanam dengan pola padi-padi-padi (tiga kali musim) padahal selayaknya penanaman yang baik adalah padi-padi-kedelai atau padi-padi-jagung atau palawija lainnya yang bisa mengembalikan kesuburan tanah atau menjaga keseimbangan unsur hara.

Dari pantauan saya di beberapa lokasi di Jawa Tengah (Jateng) dan Daeran Istimewa Yogyakarta (DIY), yang dibutuhkan petani adalah ”jaminan pasar”.  Jangan sampai peluang harga tinggi hanya sesaat, tapi begitu panen harga turun lagi. Itulah pikiran praktis petani kita. Oleh karena itu kunci kedua adalah pola kemitraan penanaman dengan petani dan jaminan pasar.  Siapakah yang akan mampu menjamin pasar? Sementara kepastian pemerintah untuk menunjuk Badan Urusan Logistik (Bulog) atau lembaga lainnya sebagai lembaga penyeimbang komoditas kedelai masih menunggu maka mekanisme pasar yang akan menjadi penentu harga kedelai di pasaran.  Keseimbangan harga kedelai di tingkat petani dan pengrajin tahu-tempe sebaiknya terjadi secara alamiah dan market driven. Kalau petani kita diintroduksi dengan varietas unggul kedelai, mereka akan senang sekali menanam kedelai. Para petani punya harapan titik keseimbangan harga beli pemerintah/lembaga yang akan ditunjuk nanti berkisar Rp6.000-Rp7.000 per kilogram.

Akses terpenting untuk pengembangan kedelai adalah akses konsumen produk kedelai yaitu para anggota Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) dan akses produsen kedelai yaitu para anggota Koperasi Tani dan Nelayan (Koptan).  Dua hal inilah yang bisa memegang peran dalam rangka menuju kembalinya ”impian” swasembada kedelai nasional.  Diharapkan di masa depan hal ini bukanlah sebagai impian belaka tetapi dapat menjadi kenyataan.

Solusi

Sekali lagi apa pun langkah pemerintah apakah menurunkan bea impor sampai nihil atau intervensi pola pertanian, sebagai petani saya tetap berpendapat solusi yang tepat adalah tetap membudidayakan kedelai sebagai tanaman produktif yang bukan hanya sebagai tanaman sela tetapi sebagai pola tanam yang produktif menghasilkan pendapatan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Ingat, tanaman kedelai tidak hanya berfungsi sebagai tanaman produksi, tetapi juga sebagai tanaman yang dapat membantu keseimbangan unsur hara tanah karena mampu menambat unsur nitrogen (N) bebas yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Program ketahanan pangan dan kedaulatan pangan bukan hanya tanaman pangan, tetapi palawija seperti budi daya kedelai juga harus diperhatikan karena menopang hajat hidup orang banyak, khususnya petani.

Niat baik untuk memberdayakan petani pangan ini perlu dukungan dari berbagai pihak dan para pengambil kebijakan agar program ini dapat menjadi program nyata khususnya untuk menangani masalah kedelai nasional seperti yang terjadi saat ini. Di masa depan jangan lagi kita menjadi ”bangsa tempe kedelai yu es e (USA)”, tetapi kita menuju ”bangsa tempe kedelai dhewe (Jawa: hasil panen sendiri)”. Semoga…

(dari  Solo Pos 7-9-2013 halaman 4 rubrik Gagasan.  http://www.solopos.com/2013/09/07/gagasan-menuju-tempe-kedelai-dhewe-445166)

Selasa, 16 Oktober 2012

REFLEKSI HARI PANGAN SEDUNIA XXXII 16 OKTOBER 2012

Refleksi Hari Pangan Sedunia Ke-32 16 Oktober 2012

 KETAHANAN PANGAN BERBASIS UNGGULAN
 Oleh : Ir. HM. SHOLEH, MM. 

(Mantan Ketua Program Aksi Ketahanan Pangan Dewan Koperasi Indonesia/DEKOPIN 2005-2009)

Besok 16 Oktober 2012 diperingati hari Pangan Sedunia XXXII (HPS). Tema nasional HPS adalah "Agroindustri Berbasis Kemitraan Petani menuju Kemandirian Pangan” padahal tema internasionalnya adalah "Agricultural Cooperatives-Key to Feeding The World". Entah istilah apalagi yg dipakai pemerintah untuk mengusung pangan sebagai kebutuhan manusia paling hakiki. Dari ketahanan pangan, kemandirian pangan sampai kedaulatan pangan. Tapi muaranya adalah kecukupan pangan baik kualitas, kuantitas, kontinuitas maupun keterjangkauannya (K4). Apapun programnya yang penting tindakan nyata di akar rumput yaitu petani dan masyarakat umumnya. Tak perlu tema muluk-muluk tetapi menurut penulis lebih tepat "aksi program" secara nyata daripada kebanyakan program tapi tak kelihatan nyata hasilnya. Mengapa Pertanian Penting ? 

Berdasarkan data nasional, total angkatan kerja sekitar 110 juta jiwa, dimana sekitar 40 juta jiwa atau 37% diantaranyamasih bergantung pada sektor pertanian. Sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan reorientasi paradigma dan strategi pembangunan yang dapat mendukung penguatan sektor pertanian, yang masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat. Sementara itu sektor yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi dari sektor pertanian dan berkontribusi besar terhadap PDB (sektor industri dengan share terhadap PDB hampir 30%) ternyata hanya mampu menyerap 12,5% angkatan kerja yang ada. "Tahun-tahun mendatang merupakan momentum yang sangat penting dalam menentukan perjalanan bangsa. Strategi pembangunan yang berbasis pada sumberdaya alam terbarukan, di mana pertanian menjadi pilar pokoknya masih sangat diharapkan peran signifikannya. 

Fokus Unggulan 

Menurut hemat saya kunci pokok Ketahanan Pangan, Kemandirian Pangan dan Kedaulatan Pangan adalah pada "fokus pada unggulan" Indonesia dengan luas wilayah yang sangat besar memiliki potensi unggulan masing-masing. Ada potensi unggulan padi, jagung, kedelai, hortikultura, perkebunan, kehutanan, perikanan dan lain-lain. Jadi tidak jamannya lagi memaksakan introduksi produk yang tidak merupakan unggulan atau potensinya rendah. Keberhasilan Gorontalo menjadi daerah "jagung" merupakan contoh fokus unggulan. Dengan kesungguhan dan dukungan penuh pemerintah setempat maka Gorontalo menjelma menjadi sentra jagung nasional. Yang jelas dukungan segala sektor juga difokuskan seperti irigasi, jalan, pelabuhan, pasar, permodalan, penyuluhan dan yang penting pembinaan manajemen. Demikian juga fasilitasi pemasaran lokal, regional nasional hingga internasional. Pendek kata semua dinas pemerintahan dikerahkan terfokus, meskipun tanpa mengabaikan pelayanan poublik lainnya. Bahkan sektor lainnya ikut terangkat sukses fokus jagung tersebut. 

Demikian juga "berkah" kegagalan lahan sawah sejuta hektar di kalteng sekarang telah disulap fokus unggulan pada "aloe vera" atau lidah buaya, ternyata daerah tersebut sukses dengan fokus penghasil lidah buaya terbesar dengan kualitas tinggi meskipun di lahan gambut. Kiranya sudah saatnya ada daerah fokus unggulan kedelai misalnya di wilayah tapal kuda Jatim, Jember, Pasuruan atau Banyuwangi dan sekitarnya. Kelangkaan produk kedelai diduga "tidak adanya petani kedelai", petani kedelai hanyalah tanaman tumpang gilir setelah padi-kedelai-padi, atau padi-jagung-padi. sudah saatnya pemerintah mengkoordinir fokus unggulan sebagai aksi program bukan sekedar program aksi. Kesuksusan Fadel Muhammad membangun Gorontalo dengan fokus jagung patut diapresiasi, bahkan mengantarkannya menjadi Menteri, terlepas "dosa" politik apapun yang menyebabkan lengsernya juga. 

Masyarakat lebih melihat hasil nyata ketimbang program yang tak kunjung nyata. Koperasi harusnya diikutkan ! Sesuai dengan tema internasional HPS kali ini FAO menggandeng ICA (International Cooperative aliance) semacam DEKOPIN nya dunia. Koperasi tani sebagai kunci utama dalam ketahanan pangan dunia. Demikian tema internasionalnya adalah "Agricultural Cooperatives-Key to Feeding The World". Dari 300 koperasi terbaik dunia yang dirilis ICA (September 2012) maka koperasi pertanian menempati kontribusi terbanyak 28.85% dengan kontribusi USD 427 juta. Dibandingkan sektor jasa keuangan yang menempati peringkat kedua atau 26.27% atau USD 430 juta. Namun sayang sektor Koperasi pertanian di Indonesia masih terpinggirkan oleh jasa keuangan padahal jika fokus unggulan pasti akan menjadi unggulan juga komoditas pertaniannya. Gerakan koperasi merupakan wadah ekonomi rakyat sejati, inilah demokrasi Pancasila sejati. Sayang wadah koperasi saat ini seperti adem ayem saja, harusnya bersamaan dengan HPS ini maka juga momentum bagi International Year of Cooperative (Tahun koperasi Internasional). Bahkan panitia nasional HPS sepertinya tidak menggandeng Kemenkop UKM atau Dekopin sekalipun sesuai dengan tema internasional HPS tersebut. Semoga ini bukan mengindikasikan jalan sendiri-sendiri atau tanpa koordinasi. 

Sekali lagi dalam refleksi Hari Pangan Sedunia ke-32 ini Ketahanan Pangan Berbasis Fokus Unggulan adalah solusi, bukan sekedar program. Saat ini bukan jaman lagi dibutuhkan Gubernur, Bupati atau Walikota yang sekedar "pintar" tetapi diperlukan Pemimpin yang "Gila", ya gila ide kreatif, cerdas inovasi, dan gila Fokus unggulan...... Semoga tulisan ini bermanfaat.


M Sholeh 
msholeh10@yahoo.com 
Mekah, 16 Oktober 2012 HPS XXXII