Menabung Air
oleh : H.M. Sholeh
Gagasan Solopos, Rabu (20/1/2016), ditulis H.M. Sholeh. Penulis adalah Pjs. Dirut PDAM Tirto Negoro Sragen dan Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret.
http://www.solopos.com/2016/01/21/gagasan-menabung-air-682600
Solopos.com, SOLO — Dampak fenomena El Nino
berkepanjangan telah terjadi pada 2015 dengan berbagai peristiwa, dari
kabut asap di mana-mana, kekeringan sawah, mengeringnya sumber air baku
dan irigasi, hingga puso di berbagai wilayah.
Pendek kata semua makhluk yang membutuhkan air dalam proses hidupnya
sangat terganggu dengan pasokan air yang menipis. Sementara itu
sebagai pemegang kebijakan, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat telah mencanangkan program 100-0-100 pada
2019.
Program tersebut berarti pada 2019 seluruh rakyat harus memperoleh
akses air bersih 100%, kawasan kumuh 0%, dan akses sanitasi layak 100%.
Target pemerintah tersebut tidak berlebihan selama dapat dipersiapkan
sebaik mungkin dengan langkah-langkah yang bijak, terencana, dan
berkelanjutan.
Perusahaan daerah air minum (PDAM) sebagai pelaksana pemenuhan target
akses air bersih bagi masyarakat secara menyeluruh (100%) pada 2019
menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Tantangan tersebut berwujud masalah antardaerah yang sangat beragam,
yakni dari semakin menipisnya sumber air baku, topografi, benturan
penggunaan air, sumber daya manusia (SDM), perpipaan, pendanaan, hingga
dukungan pemerintah daerah yang merupakan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap pencapaian target tersebut.
Setelah fenomena El Nino pada 2015 lalu masih ada tantangan alam pada
2016. Berdasarkan prakiraan akan terjadi fenomena La Nina pada tahun
ini. Fenomena La Nina pada 2016 diprediksi merupakan kebalikan dari
fenomena El Nino pada 2015.
Fenomena La Nina berawal dari menguatnya angin pasat tenggara,
sedangkan suhu muka air laut di Samudera Pasifik sebelah barat lebih
hangat daripada suhu tropis di timur Pasifik yang berada pada kondisi
lebih dingin.
Akibat dari pola suhu permukaan laut yang seperti itu atmosfer tropis
di wilayah barat Pasifik mengalami penguapan air dengan kadar yang
lebih tinggi. Kemungkinan untuk munculnya awal Cumulus sebagai awan
pembawa hujan menjadi semakin meningkat.
Sudah pasti dampak La Nina akan mengakibatkan bencana banjir, tanah
longsor, atau bahkan angin puting beliung di berbagai wilayah. Lumrah
manusia selalu mengeluh apabila air kurang atau berlebih.
Hal ini sebenarnya adalah masalah pengaturan air (
water management) berdasarkan kaidah-kaidah hidrologi dan lingkungan secara bijak dan berwawasan lingkungan.
Dampak El Nino dan La Nina juga disebabkan anomali iklim yang telah
terjadi dalam beberapa dasawarsa belakangan ini berupa efek rumah kaca,
bocornya lapisan ozon, meningkatnya suhu permukaan kutub, hingga dampak
pencemaran yang terakumulasi. Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi
hal tersebut di atas?
Neraca Air
Sesungguhnya jumlah air secara keseluruhan tetap, tetapi
penyebarannya tidak seimbang akibat kurangnya langkah konservasi air dan
tanah serta lingkungan. Untuk mengatur keseimbangan air (
water balance) seharusnya setiap wilayah atau pemerintah daerah menghitung neraca air di wilayahnya.
Dari neraca air tersebut dapat ditentukan langkah-langkah kebijakan
yang perlu diambil sehubungan dengan kebijakan konservasi tanah, air,
serta lingkungan, bukan sekadar eksplorasi air tanah yang
sebebas-bebasnya atau pompanisasi dan lain-lain.
Merebaknya kawasan industri yang tidak disertai kebijakan pengambilan
air secara terkendali menyebabkan ketidakseimbangan neraca air di suatu
wilayah. Demikian juga dengan menjamurnya kawasan perumahan,
permukiman, pusat perbelanjaan, hotel, hingga mal-mal di perkotaan
hingga ke wilayah kabupaten/kota yang sedang tumbuh.
Belum lagi banyaknya penggunaan mesin pompa air di sawah tanpa dasar
kaidah hidrologi yang tepat. Ini menyebabkan permukaan air tanah turun
secara signifikan. Seharusnya pemerintah daerah memproteksi
sumber-sumber air melalui penghijauan, konservasi tanah dan air, kalau
perlu diterbitkan peraturan daerah untuk memproteksi sumber air
tersebut.
Kepedulian terhadap keseimbangan air sesungguhnya bisa dimulai dari
skala terkecil atau rumah tangga, kantor, lingkungan, hingga gerakan
menabung air. Apa itu konsep menabung air?
Menabung air adalah melakukan tindakan penyimpanan air pada saat
berlebih melalui tindakan-tindakan konservasi air di lingkungan dan
menggunakannya secara bijak pada saat dibutuhkan.
Prinsip menabung air adalah menahan air sebanyak-banyaknya agar
tertahan di lingkungan tanah atau reservoir dengan membuat sumur resapan
di sekitar rumah, kantor, atau lingkungan.
Selain di sumur-sumur resapan, menabung air juga dapat dilakukan
melalui pembuatan lubang resapan biopori (LRB). LRB ini selain berfungsi
sebagai lubang resapan air juga dapat menjadikan tempat dekomposisi
bahan organik serta menjaga keseimbangan ekosistem di dalam tanah.
LRB juga dapat dibuat dalam skala rumah tangga sesuai intensitas
curah hujan dan luas kawasan. Teknik-teknik sederhana ini sangat mudah
diterapkan dan sangat bermanfaat bagi keseimbangan air serta menjaga
biodiversitas di dalam tanah dan lingkungan.
Jika dalam sebuah rumah tangga memiliki 10 lubang resapan biopori,
dalam satu kota yang berpenduduk satu juta orang, misalnya, dapat
menabung air tak kurang dari 10 juta liter selama setahun. Dampak
secara regional dan nasional bila hal ini bisa menjadi gerakan nasional
tentu lebih baik lagi.
Sayangnya, saat ini banyak halaman, pekarangan, atau bahu jalan di lingkungan masyarakat ditutup dengan beton, bata, atau
conblock
yang tidak meresapkan air. Sejatinya menjaga ruang terbuka hijau
dengan rumput atau hijauan membantu menjaga resapan dan keseimbangan air
tanah di lingkungan tersebut.
Dalam skala yang lebih bersar kebijakan pemerintah pantut diapresiasi
dengan memperbanyak embung-embung atau waduk-waduk penampung air yang
dapat digunakan berbagai keperluan pertanian, sumber air baku,
konservasi, hingga pariwisata.
Demikian juga dengan konservasi hutan, bukit-bukit, dan gunung-gunung
dengan langkah reboisasi, apalagi setelah dampak kebakaran hutan tahun
lalu, merupakan tindakan konservasi yang sangat terpuji.
Gerakan kesadaran terhadap program penanaman semiliar pohon mulai
muncul gerakan serupa berupa adopsi pohon atau tanaman pada suatu
kawasan atau wilayah tertentu.
Dengan langkah kecil menabung air yang dilaksanakan secara konsisten
dan berkelanjutan akan menjaga keseimbangan air di dalam tanah dan
lingkungan. Menabung air adalah menabung kesehatan dan kehidupan di
masa datang.
Semoga dengan langkah kecil ini dapat berperan serta membantu
mewujudkan program 100-0-100 pada 2019 seperti yang telah dicanangkan
pemerintah.
http://www.solopos.com/2016/01/21/gagasan-menabung-air-682600